\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kampanye anti tembakau jelas bertonasi negatif terhadap industri hasil tembakau. Kalau pemerintah tidak segera turun tangan, bisa-bisa industri hasil tembakau nasional tinggal sejarah.<\/p>\n\n\n\n

Fakta menunjukkan, kontribusi industri hasil tembakau terhadap ekonomi nasional. Hampir 10 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disumbang oleh industri ini. Tahun ini saja, jumlah cukai rokok yang disetor ke pemerintah mendekati Rp. 150 triliun. Kalau ditambah dengan perpajakan tak kurang Rp. 200 triliun disetor industri hasil tembakau, berikut derivatnya.<\/p>\n\n\n\n

Kampanye negatif yang massif terhadap industri hasil tembakau ditenggarai merupakan agenda setting untuk mematikan industri kretek.<\/h4>\n\n\n\n

Karena itu adalah keniscayaan kalau industri ini harus diselamatkan. Supaya kampanye bisa diredam, ada beberapa hal yang mendesak dilakukan. Seperti tata  niaga sektor tembakau perlu segera dibenahi, kemudian Pemerintah jangan gegabah aksesi FCTC, terakhir pemerintah harus hadir dari dulu ke hilir di sektor tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga hal itu bisa melandasi langkah awal menangkal derasnya kampanye negatif atau membuat kretek bisa bertahan sebagai tuan rumah di negeri sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mahbub Djunaidi, Kretek, dan Sikap Minder Terhadap Asing<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Pemerintah selama ini sering tidak hadir di saat-saat industri atau petani sedang sulit. Misal, ketika musim pancaroba sehingga membuat produksi tembakau anjlok, pemerintah tidak memberi warning jauh-jauh hari bahwa akan ada anomali cuaca.<\/p>\n\n\n\n

Hal lain yang patut diperhatikan, seringkali, kampanye negatif terhadap tembakau, disusupkan melalui regulasi-regulasi secara halus. Dampak penyusupan kepentingan  asing ke regulasi ini jelas saja sangat mengancam ekonomi di dalam negeri. Sekaligus juga mengancam kedaulatan nasional.<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antitembakau, selalu berdalih dengan bahasa pembatasan atau pengendalian. Padahal niatan utama mereka memberangus tembakau dan kretek.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, kelompok pro kretek yang notabene mendukung kedaulatan negara, jangan sampai lengah karena korporasi farmasi internasional yang saat ini sudah mampu memproduksi nikotin sintesis. Mereka ini ingin menguasai rokok konvensional.<\/p>\n\n\n\n

Bahkan, tak jarang, tembakau lokal didorong untuk dikendalikan dengan legitimasi hasil riset yang sejatinya bertujuan untuk memberangus pertanian tembakau. Celakanya, untuk urusan seperti ini, pemerintah terlibat. Lihat saja bagaimana pejabat-pejabat pemerintah sudah mulai menyarankan petani beralih dari tembakau ke komoditas lain.<\/p>\n\n\n\n

Sudah banyak lembaga di negeri kita yang sudah menjadi alat pendukung kepentingan kelompok anti tembakau. Tidak hanya itu, sponsor-sponsor untuk menggalakkan kampanye anti tembakau juga telah merasuki organisasi-organisasi keagamaan.<\/p>\n\n\n\n

Lembaga pendidikan pun juga tak luput diperalat. Lembaga donor membiayai riset-riset yang seolah-olah bertujuan mulia namun sebenarnya memiliki motif ekonomi politik untuk memojokkan petani dan industri.<\/p>\n\n\n\n

Jika hal-hal seperti itu dibiarkan, ini menjadi neokolonialisme baru namun dengan cara sistem yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n

Industri hasil tembakau bisa bertahan. Hanya saja, dengan derasnya kampanye negative, apakah pemilik perusahaan rokok nasional mampu bertahan atau memilih menjual usaha mereka ke asing.<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus punya rencana lebih serius untuk memperhatikan, melindungi, sektor industri hasil tembakau. Dengan masuknya pemerintah, kolaborasi pabrikan petani, dari hulur ke hilir, kampanye negatif yang dihembuskan kelompok anti tembakau itu hanya selesai di isu saja.
<\/p>\n","post_title":"Kampanye Antitembakau=Neokolonialisme","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kampanye-antitembakauneokolonialisme","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-18 11:19:52","post_modified_gmt":"2019-08-18 04:19:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5970","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5963,"post_author":"901","post_date":"2019-08-16 09:50:25","post_date_gmt":"2019-08-16 02:50:25","post_content":"\n

Abuya Uci Turtusi selama ini dikenal sebagai gurunya para guru lantaran ketawadluan dalam menerima hinaan orang dan menutupi bahwa ia adalah dzuriah Kiai Kondang asal Banten, Abuya Dimyati al-Bantani. Selain itu, beliau dikenal sebagai sosok yang haus akan ilmu. 
<\/p>\n\n\n\n

Cerita masyhur soal Abuya Uci masyhur di kalangan pesantren. Saking hausnya ilmu, beliau belajar ilmu agama pada banyak pesantren kepada 32 guru selama 32 tahun. Lama Abuya Uci mondok di suatu tempat berbeda-beda, ada yang 3 tahun lebih bahkan ada yang hanya 1 hari. Inilah letak ketawadluan beliau, setiap kali ada yang mengetahui beliau adalah putera dari ulama besar, maka beliau akan pindah lantara banyak kiai yang tidak berani menerimanya sebagai murid.
<\/p>\n\n\n\n

Abunya Uci sangat dihormati dan disegani oleh semu kalangan masyarakat tanpa terkecuali, beliau punya jasa besar terhadap Indonesia, terutama Kabupaten Tangerang, Banten. Dengan keistimewaan dan karomah yang diberikan Allah, hati umat Islam tergerak untuk mengikuti beliau karena pesan-pesan tausyiahnya yang lembut, toleran, moderat kepada semua golongan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada yang menarik dari sosok Abuya Uci, ia juga seorang perokok. Bahwa kampanye rokok menyebabkan kebodohan, hanyalah bualan belaka. Karena fakta menunjukkan, para perokok adalah masyarakat yang giat bekerja keras dan banyak tokoh yang cerdas meski ia merokok.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Abuya Uci sedang merokok<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n

Pada sebuah pengajian, Abuya Uci bercerita soal pengalamannya merokok di Singapura. Kita sama-sama tau bahwa Singapura adalah negara yang sangat ketat soal rokok. Beliau bercerita, dibeberapa tempat dilarang merokok, namun di tempat-tempat tertentu, masyarakat masih bisa menikmati rokok. Inilah sejatinya ketertiban dan bagaimana penghormatan atas suatu hak bermasyarakat gamblang dipertontonkan. Setiap kali Abuya membuang puntung rokok, polisi Singapura yang menjaganya selalu memungut puntung rokok beliau dan kemudian menghisapnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berhenti sampai di situ, Abuya Uci juga paham betul kondisi pertembakauan di Indonesia. Mungkin jika boleh digolongkan, Abuya Uci ini termasuk perokok yang idealis. Abuya Uci dengan tegas menjelaskan, \u201cTembaka Indonesia teh diakui luar biasa. Aset tembakau Indonesia teh termasuk aset besarnya luar biasa, yang masuk ke negara berapa persen? Nah makanya kalau diharamkan ada unsur apa nih? Ada unsusr polusi? ya itu mah undang-undang negara, silahkan saja seperti Singapura. Jika merokok di tengah kota di denda 3 juta, kalau pinggir kota 2 juta, kalau di pinggir hotel 1 juta, kalau di kamar hotel 500 ribu, ada aturan-aturannya. Kalau mau merokok ada tempat khusus seperti taman.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kini di Indonesia, perda KTR (Kawasan Tanpa Rokok) giat diwacanakan dan direalisasikan. Tetapi, backgrounnya berdasan kebencian kepada roko, bukan membuat peraturan yang adil untuk seluruh elemen masyarakat yang merokok maupun tidak. Padahal sejatinya Perda KTR, dibuat untuk keadilan keduanya.
<\/p>\n","post_title":"Abuya Uci Turtusi Bicara Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"abuya-uci-turtusi-bicara-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-16 09:50:32","post_modified_gmt":"2019-08-16 02:50:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5963","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5960,"post_author":"904","post_date":"2019-08-15 12:45:21","post_date_gmt":"2019-08-15 05:45:21","post_content":"\n

Pendakian demi pendakian hampir selalu ramai dilakukan di berbagai gunung di Indonesia. Beberapa tahun lalu pendakian bahkan diabadikan dalam film layar lebar 5 Cm di puncak tertinggi pulau jawa, Gunung Semeru.<\/p>\n\n\n\n

Saya barangkali menjadi bagian dari banyak orang yang kemudian keranjingan naik gunung. Beruntungnya, keinginan itu segera bersambut saat kerabat mengajak pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung terdekat di daerah kami yang tinggal di Kabupaten Kuningan dan menjadi gunung tertinggi di Jawa Barat.<\/p>\n\n\n\n

Gunung Ciremai dikelola oleh Taman Nasional Gunung Ciremai yang menyediakan tiga jalur populer pendakian. Satu jalur dari kabupaten Majalengka via Apuy dan dua dari Kabupaten Kuningan; via Palutungan dan Linggarjati. Bersama rombongan kita memilih jalur pendakian dari Palutungan yang relatif landai dan cukup dekat dari puncak.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengisap Tembakau Mars Brand di Kaki Gunung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ada delapan titik yang mesti ditempuh lewat jalur Palutungan. Pertama-tama kita akan berjalan merayap di tepi pesawahan warga sampai menemukan kebun pinus. Selebihnya belantara hutan dengan jajaran pohon besar menjadi medan hingga berhenti di Pos Cigowong, pos terakhir yang menyediakan mata air. <\/p>\n\n\n\n

Perjalanan akan semakin terasa terjal saat di Pos Tanjakan Asoy. Dengan kemiringan hampir 45 derajat, kita mendaki mesti memperhatikan keseimbangan. Sementara untuk pijakan cenderung aman sebab dibantu dengan akar yang besar sepanjang tanjakan. <\/p>\n\n\n\n

Pos Pesanggrahan menjadi tempat camp terkakhir untuk jalur Palutungan. Kita bisa rehat sejenak meregangkan otot dan tubuh sebelum memulai sumit menuju puncak. Beberapa kali pos ini sering diserang oleh binatang buas, seperti babi hutan yang kerap datang bergerombolan. Beruntung saat itu kita aman dari penyergapan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selepasnya kita akan memulai trek pendakian yang semakin terjal melewati batas vegetasi di Pos Sanghiang Ropoh. Namun tidak akan kecewa, setelah ini Bunga 'abadi' Edelwis merayap di sepanjang pendakian puncak. Pemandangan pun sudah mulai jelas memotret belahan kabupaten Kuningan dan Cirebon. <\/p>\n\n\n\n

Tenaga lebih ekstra akan terkuras dan tangan mesti pandai memilah dahan pijakan. Selang satu kilometer, sampailah di puncak Gunung Ciremai. Potret lukisan alam akan memanjakan mata sepanjang jauh memandang. Kelelahan yang saat itu hinggap seketika luruh dan membuat kita ingin bersimpuh; mengucap syukur kepada Pencipta akan lukisan alam yang saling silang menyempurnakan.<\/p>\n\n\n\n

Menapaki langkah demi langkah secara perlahan dan mengikuti irama rombongan, ternyata memang tidak seindah seperti apa yang dipotret dalam film 5 Cm. Kelelahan bisa menghinggapi tubuh bukan saja setiap jam, tapi setiap menit adalah waktu yang selalu terbuka untuk menyerah, dan kembali pada dekapan rumah.<\/p>\n\n\n\n

Mendaki bisa jadi sebuah kesatuan gerak badan yang melibatkan penuh fungsi tubuh secara maksimal di tengah kondisi paling minimal. Kaki kita akan dipaksa bergerak terus melewati undakan tanah tak berujung, jantung kita akan berdetak lebih keras sampai terdengar di gendang telinga, tangan kita tak akan melepaskan dahan yang menjulur di sepanjang jalan, punggung kita selalu menjadi sandaran bahan logistik, sementara ketahana tubuh kita akan diuji dengan angin dan suhu yang berubah secara drastis.<\/p>\n\n\n\n

Saat kita terus menerus mendaki ketinggian, suhu di sekitarnya ternyata justru berbalik arah menjadi semakin rendah. Kedinginan mungkin akan menjadi masalah, tapi beruntungnya di Gunung Ciremai masih boleh untuk membuat api dari dahan pohon yang berserakan. <\/p>\n\n\n\n

Sementara bila masih berada di trek perjalanan, kedinginan sedikit bisa diredam dengan kehangatan dari beberapa batang kretek. Bagi saya dan kerabat, komoditas budaya dari paduan tembakau dan cengkeh ini bukan menambah sesak pernapasan saat pendakian, sebaliknya kretek justru memberi kehangatan natural yang bisa meresap dalam tubuh di tengah suhu yang rendah. Tapi, ya, kita tetap mesti cermat dan memastikan puntung kretek tidak dibuang sembarangan setelahnya. <\/p>\n\n\n\n

Hal ini mendesak kita supaya mencegah dari kebakaran hutan dan menambah sampah di pegunungan. Begitu pun saat kita membuat unggun perapian, setelahnya jangan lupa untuk memadamkan pembakaran secara utuh. Sebab bila tidak, risikonya bukan kita saja yang menanggung. Flora dan fauna bisa turut teranacam, ekosistem rusak, dan bisa jadi jalur pendakian tak lagi dibuka.<\/p>\n\n\n\n

Kita bisa lihat apa yang terjadi belakangan di Gunung Ciremai, sejak seminggu lalu kebakaran hutan belum jua padam secara utuh. Media setempat mengabarkan 300an hektar luluh lantak terbakar si jago merah. Kebakaran itu terjadi di titik Goa Walet yang jaraknya hanya beberapa meter lagi dengan puncak. <\/p>\n\n\n\n

Sembari liburan, naik gunung tidak berarti kita tidak belajar, sebaliknya kita justru mesti lebih peka akan lingkungan dan bersama merawat alam yang kita pinjam dari keturunan manusia selanjutnya.
<\/p>\n","post_title":"Kretek dalam Pendakian Gunung Ciremai","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-dalam-pendakian-gunung-ciremai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-15 12:45:30","post_modified_gmt":"2019-08-15 05:45:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5960","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5949,"post_author":"877","post_date":"2019-08-12 08:28:29","post_date_gmt":"2019-08-12 01:28:29","post_content":"\n

Kurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan, dibaliknya ada kisah indah yang bisa sebagai bahan renungan dan pengingat bagi semua. Pada kisah qurban, terdapat peran anak usia dini yang akhirnya dikenang umat Islam sedunia sepanjang masa dan juga dapat mengangkat harkat martabat keluarganya dihadapan Tuhan. Selama anak suka bahkan bahagia menjalankan perannya untuk kepentingan dirinya sendiri kedepan dan mengangkat harkat martabat keluarganya dengan bimbingan yang baik, maka hal tersebut sah-sah saja tidak ada larangan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Kemarin, pada tanggal 11 Agustus 2019 hari Minggu, tepatnya pada tanggal 10 dzulhijjah 1440 M., dipagi hari umat Islam terlihat berbondong-bondong ada yang ke masjid ada yang kelapangan, tidak lain menjalankan ibadah sholat Idul Adha, atau biasa disebut hari raya qurban. Selain melakukan sholad, umat Islam merayakannya dengan menyembelih hewan qurban, seperti unta tradisi di Timur Tengah, sedangkam di Indonesia menyembelih sapi atau kerbau. Khusus di Kudus kota Kretek rerata menyembelih kerbau, sapi bagi sebagian besar masyarakat Kudus tidak mau menyembelih. Cerita yang beredar di masyarakat turun menurun, pelarangan menyembelih sapi sejak zaman kewalian yaitu Sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap agama lain yang beranggapan hewan sapi sebagai hewan yang suci.<\/p>\n\n\n\n

Kembali ke Idul Adha, diceritakan oleh para Ulama\u2019 ada kisah tentang Nabi Ibrahim yang akan mengorbankan putranya yang masih kecil namanya Ismail (besarnya menjadi Nabi). Ceritanya Nabi Ibrahim saat tidur bermimpi, ia diperintah Tuhan untuk menyembelih putranya bernama Ismail. Saat bangun, ia merenung, berfikir sambil bertanya dihati, benarkah ini perintah Tuhan?. Kali pertama mimpinya ini, ia masih ragu antara benar perintah Tuhan atau tidak. Mimpi yang direnungkan dan difikir terjadi pada malam tanggal 08 dzulhijjah,disebut hari tarwiyah<\/em>.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tinjauan Kritis Atas Larangan Iklan dan Sponshorship dengan Mencantumkan Logo, Brand Image, dan Identitas CSR Sebuah Perusahaan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada malam tanggal 09 dzulhijjah Nabi Ibrahim mimpi lagi dengan perintah yang sama. Mimpi kali kedua, Nabi Ibrahim merasa yakin kalau benar-benar perintah Tuhan. Pada mimpi kedua disebut hari arafah<\/em>. Pada tanggal 10 dzulhijjah, hari Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk menyembelih Ismail (putranya), yang kemudian disebut  hari nakhr <\/em>(biasa disebut nahar bagi orang Indonesia). <\/p>\n\n\n\n

Cerita KH. Sya\u2019roni, saat pagi hari pada tanggal 10 dzulhijjah Nabi Ibrahim menyuruh istrinya bernama Siti Hajar (ibu kandung Ismail) untuk memandikan Ismail setelah itu memakaikan pakaian yang bagus-bagus, dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Siti Hajar melaksanakan sesuai perintah suaminya, sembari menunggu istrinya selesai, Nabi Ibrahim mengasah pisaunya\/pedangnya. <\/p>\n\n\n\n

Ismail sudah siap, diajaklah jalan jalan bapaknya (Nabi Ibrahim) menuju bukit Mina di Makkah, dengan niatan mau disembelih sesui perintah Tuhan. Di tengah perjalanan, Nabi Ibrahim dihadang iblis yang berwujud manusia, dengan mengatakan Ibrahim, anakmu itu ganteng, tega kamu sembelih, urungkan niatmu. Nabi Ibrahim tidak menjawab, malah mengambil batu kecil 7 butir, kemudian batu kecil tersebut dilemparkan ke arah iblis tersebut, sambil mengatakan, pergi kamu Iblis. Nabi Ibrahim tetap melanjutkan perjalannya, dan dihadang Iblis lagi kali kedua, Nabi Ibrahim mengambil batu kecil lagi dilempar ke iblis. Kemudian Nabi melanjutkan perjalannya, dihadang iblis lagi kali ketiga, seperti penghadangan yang pertama dan kedua, Nabi mengambil batu kecil dan dilemparkan ke arah iblis, lalu Nabi Ibrahim lanjut lagi. Inilah cerita, yang menjadi cikal bakal adanya jumroh ula, jumroh wustho dan jumroh aqobah. Tiap ibadah haji jumroh ini harus diperagakan seperti halnya apa yang telah dilakukan Nabi Ibrahim dengan maksud melawan dan melempar iblis dengan batu agar tidak mengganggu..  <\/p>\n\n\n\n

Sesampainya di puncak bukit Mina, Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya dan mengatakan maksud dan tujuannya mengajak Ismail jalan-jalan. Selesai Nabi Ibrahim cerita, kemudian Ismail berkata pada bapaknya, untuk segera menjalankan perintah Tuhan. Pada saat menyembebelih, pisau\/pedang Nabi Ibrahim tidak bisa melukai kulit Ismail, karena Nabi Ibrahim masih gelisah dan menangis saat melihat wajah Ismail. Kemudian Ismail berkata, mungkin karena bapak melihat wajahku, hingga tidak tega menyembelih, lalu Ismail membalikkan badannya memposisisikan badannya telungkup. Lalau Nabi Ibrahim dengan kesiapan hati melakukan penyembelihan yang kedua, lagi-lagi pisau\/pedangnya tidak mampu melukai kulit leher Ismail. Dengan bingung karena tidak berhasil menyembelih Ismail, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa kambing, digantikannya Ismail dengan kambing tersebut. Bersamaan dengan turunnya wahyu Tuhan yang menjelaskan keduanya telah lulus  dari ujian. Kemudian Nabi Ibrahim membaca takbir \u201cAllahu Akbar\u201d<\/em> 3x, disaut Ismail dengan .membaca \u201cLaa ilaaha illahhu wallahu akbar<\/em>\u201d, diakhiri Malikat Jibril dengan bacaan \u201cAllahu Akbar walillahil Hamd<\/em>\u201d, dilanjutkan dengan menyembelih kambing bawaan malaikat jibril.<\/p>\n\n\n\n

Ada cerita lucu setelah Nabi Ibrahim selesai menyembelih kambing, Nabi Ibrahim bertanya pada Ismail, siapa yang paling dermawan diantara kita? Ismail menjawab, saya. Tidak bisa kata Nabi Ibrahim, saya yang paling dermawan, karena akan mngorbankan anak yang kucintai. Ismail berkata, tidak bisa, saya yang dermawan, karena bapak punya dua anak, kalau saya dikorbankan, masih punya anak satu, lalu malaikat berkata, tidak bisa, saya yang dermawan karena saya sudah kehilangan kambing satu.\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keterangan dalam kitab tafsir  \u201cTanwirul Adhan<\/em>\u201d penjelasan dari surat As-Saffat ayat 102 bahwa usia Ismail saat itu 13 tahun ada juga Ulama\u2019 yang mengatakan umur 7 tahun. ada riwayat lain yang mengatakan umur Ismail saat itu 14 tahun. Pada intinya saat kejadian kisah penyembelihan, Ismail masih usia anak-anak, ia dengan senang hati dan ikhlas, menjalani perannya.  <\/p>\n\n\n\n

Dari sejarah singkat qurban yang ektrim di atas, kira-kira pendapat KPAI apakah mendukung apa yang telah di lakukan Nabi Ibrahim?, atau sebaliknya mendukung Iblis yang menghalangi Nabi Ibrahim yang akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba?. Saya yakin KPAI akan mendukung Nabi Ibrahim, tidak mendukung langkah Iblis. 
<\/p>\n\n\n\n

Walaupun ktidak persis, tapi hampir mirip kisah qurban diatas dengan audisi oleh Djarum Foundation yang melibatkan. Program audisi bulutangkis usia anak-anak Djarum Foundation, tidak lain ikut serta program pemerintah dalam mencerdaskan bangsa melalui pencarian bakat sedini mungkin. Anak-anak yang berbakat bulutangkis tentunya yang terjaring dalam audisi, dididik dengan penuh semangat oleh Djarum Foundation Bhakti olahraga. Buktinya, anak-anak tersebut disekolahkan formal, dilatih bulu tangkis dengan disiplin dan penuh tanggungjawab, tanpa dipungut biaya apapun, bahkan semua kebutuhan anak-anak tercukupi dengan baik. Pola didiknya, seperti pola pendidikan sekolah lainnya, anak-anak dididik dan diajar agar berpretasi, setidaknya punya pengetahuan, pengalaman dan keahlian sebagai bekal masa depan. Disisi lain, ternyata anak-anak yang terjaring audisi merasa sangat gembira, senang dan bangga bisa terpilih. Mereka dapat mengembangkan bakatnya, dan mendapatkan pendidikan sekolah dengan gratis.<\/p>\n\n\n\n

Tujuan utama Djarum Foundation mencari bibit unggul pebulutangkis Indonesia, yang selama ini sebagai salah satu olahraga kebanggaan masyarakat Indonesia atas banyaknya prestasi yang di peroleh. Program Djarum Foundation Bhakti olahraga jauh dari niatan ekploitasi anak untuk promosi, yang ada ekploitasi anak untuk kejayaan olah raga bulutangkis bangsa Indonesia. <\/p>\n\n\n\n

Juga, program Djarum Foundation audisi bulutangkis adalah salah satu bentuk kesadaran dan kewajibannya membangun bangsa dengan melibatkan anak-anak. Lalu apa yang salah dari Djarum Foundation Bhakti Olahraga, jelas-jelas telah menghibahkan fasilitas, pikiran hingga dana untuk kepentingan kejayaan bangsa Indonesia, melalui olahraga. Pemerintah harus mendukung program tersebut, begitupun KPAI. KPAI jangan sampai menjadi penghalang, seperti halnya penghalang Nabi Ibrahim dalam kisah di atas.  
<\/p>\n","post_title":"Refleksi Kisah Kurban sebagai Bahan Pengingat KPAI","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"refleksi-kisah-kurban-sebagai-bahan-pengingat-kpai","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-12 08:30:31","post_modified_gmt":"2019-08-12 01:30:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5949","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5943,"post_author":"878","post_date":"2019-08-08 11:34:40","post_date_gmt":"2019-08-08 04:34:40","post_content":"\n

Setidaknya dua kali dalam satu tahun, pemerintah lewat tangan Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan hasil surveynya. Biasanya itu terjadi pada bulan Maret dan September. Pada dua kesempatan tersebut, ketika berbicara perihal kemiskinan berdasarkan hasil surveynya, produk rokok selalu berdampingan dengan beras dituduh sebagai sumber penyebab utama meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini. Konsumsi rokok, dan konsumsi beras, serta beberapa komoditas lainnya selalu menjadi tertuduh biang keladi penyebab meningkatnya kemiskinan di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Namanya riset dari BPS, tentu saja data yang digunakan adalah data kuantitatif. Persentase demi persentase dikeluarkan sebagai legitimasi mereka mengeluarkan pernyataan. Manusia-manusia yang menjadi objek penelitian, dimanfaatkan sebatas responden semata dan dibutuhkan sekadar angka-angkanya saja. Mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan survey yang pilihan-pilihan jawabannya sudah ditentukan hingga pada akhirnya jawaban-jawaban tersebut diturunkan dalam kuantifikasi-kuantifikasi berupa angka dan persentase-persentase belaka.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada yang salah memang dalam penelitian semacam itu. Itu sah dan tentu saja dikemas dalam metode-metode yang ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi akademis. Akan tetapi, menurut saya pribadi, ada yang kurang dalam bentuk riset semacam ini. Pelibatan manusia dalam survey yang kemudian ditransformasi hanya ke dalam bentuk-bentuk angka semata, meniadakan manusia sebagai manusia itu sendiri. Manusia yang memiliki perasaan, manusia yang berpikir, dan manusia dengan bermacam pilihan-pilihan serta alasan di balik pilihan-pilihannya tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Membantah Perang Diskon Rokok sebagai Penyebab Meningkatnya Angka Kemiskinan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Survey-survey dan riset-riset yang semata menangkap kuntifikasi berupa angka-angka saja dari banyak responden yang merupakan manusia bernyawa, tidak mampu menangkap fenomena-fenomena mendalam terkait manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Terkait konsumsi rokok yang menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan misal, memfungsikan manusia sebatas data-data yang diangkakan semata tidak akan mampu menjawab sekaligus menangkap fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, di lingkungan pertanian dan perkebunan, di lingkungan pabrik-pabrik yang memproduksi rokok, dan di lingkungan pedagang-pedagang asongan dan pedagang rokok eceran. Statistika tidak mampu menjabarkan sisi manusia dan kemanusiaan seseorang bergelut keluar dari garis kemiskinan dengan mengandalkan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT).<\/p>\n\n\n\n

Sebagai contoh, fenomena tentang Ibu Umiyatul keluar dari lembah kemiskinan dan perjuangannya membesarkan keempat orang anaknya dengan mengandalkan sektor pertembakauan, ini sama sekali tidak bisa ditangkap lewat jalur statistika kuantitatif saja.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul tinggal bersama keempat orang anaknya di Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Sudah tiga tahun belakangan Ia membesarkan keempat orang anaknya seorang diri usai ditinggal mati suaminya karena kecelakaan lalu lintas. Anak pertamanya kini duduk di kelas tiga SMA, dan anak terakhirnya masih kelas empat SD.<\/p>\n\n\n\n

Sebelumnya, ketika suaminya masih hidup, Umiyatul bekerja penuh waktu sebagai ibu rumah tangga. Sesekali Ia bekerja di ladang sebagai buruh tani terutama ketika musim panen tiba. Ia bekerja memanen cabai, tomat, dan sayur-mayur yang ditanam tetangganya di ladang mereka. Pada tahun pertama usai ditinggal suaminya, Umiyatul kelabakan. Uang dari hasil menjadi buruh tani saat musim panen tiba tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jalan pertama yang Ia pilih, meminjam uang ke kerabat dan tetangga-tetangganya. Meminjam uang, tentu saja bukan solusi terbaik, itu sekadar solusi parsial karena keterdesakan. Tidak mungkin Umiyatul melakukan itu terus untuk menutup kebutuhan keluarganya.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun kedua setelah suaminya meningggal, Umiyatul mulai bekerja sebagai buruh tani penuh waktu. Jika dulu karena keterbatasan waktu dan karena sudah ada suami yang bekerja, Umiyatul memilih untuk tidak ikut menjadi buruh tani ketika musim tembakau tiba di Temanggung. Setelah hanya seorang diri berusaha mencukupi kebutuhan keluarga, Umiyatul akhirnya memutuskan untuk terjun ke dunia pertembakauan sebagai buruh tani.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Selama sekira lima hingga enam bulan dalam setahun ketika musim tembakau tiba (April hingga September), Umiyatul bekerja dengan sangat tekun di sektor pertembakauan agar Ia dan keluarganya keluar dari lembah kemiskinan yang pelan-pelan mereka terjebak di sana. Di masa awal musim tembakau, Umiyatul ikut bekerja menyiapkan bibit-bibit tembakau yang hendak ditanam. Ia lantas bekerja menanam tembakau di ladang ketika masa tanam telah tiba. Bekerja memberi pupuk di ladang, dan membersihkan ladang-ladang tembakau dari tanaman-tanaman liar yang tiba-tiba tumbuh.<\/p>\n\n\n\n

Sembari menunggu musim panen tiba, Umiyatul bekerja membikin keranjang-keranjang tembakau yang nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau yang sudah dipanen. Ketika panen tiba, Umiyatul ikut memanen tembakau, menjemur tembakau, dan bekerja sebagai pengrajang tembakau di gudang milik majikannya.<\/p>\n\n\n\n

Dari kerja-kerja yang Ia lakukan itu, pelan-pelan, ancaman hidup lama di lembah kemiskinan berhasil Ia hindari. Ia bisa mencukupi kebutuhan pokok keluarga, dan bisa tetap menyekolahkan keempat orang anaknya. Lewat bekerja di sektor pertembakauan, Umiyatul bisa membebaskan keluarganya dari jebakan kemiskinan yang ditakuti banyak orang itu.<\/p>\n\n\n\n

Umiyatul dan keluarganya, hanyalah satu dari banyak kasus yang saya temukan setidaknya tiga tahun belakangan ini di wilayah Temanggung. Bagaimana sektor pertembakauan di Temanggung banyak membantu mereka yang terancam masuk ke jurang kemiskinan untuk menghindar darinya, dan berhasil hidup dengan cukup layak.<\/p>\n\n\n\n

Itu baru satu wilayah di Kabupaten Temanggung. Belum lagi di wilayah-wilayah pertanian tembakau lainnya semisal di Jember, Madura, Bojonegoro, dan beberapa tempat lainnya. Di Kudus dan Kediri, lain lagi kasusnya. Banyaknya pabrikan-pabrikan rokok kretek di kedua tempat itu, membantu ribuan, bahkan puluhan ribu orang dan keluarganya untuk bisa hidup dengan layak. Mereka bekerja di pabrik-pabrik rokok kretek dan mendapat penghasilan yang cukup sehingga mereka terbebas dari status sebagai rakyat miskin.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Agenda Terselubung di Balik Isu Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya dari sektor perkebunan cengkeh yang tersebar mulai dari Aceh hingga Papua. Ada jutaan manusia yang terbebas dari kemiskinan karena keberadaan perkebunan cengkeh, serta jaminan bahwa produk cengkeh yang dihasilkan sepenuhnya diserap oleh Industri Hasil Tembakau untuk memproduksi rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Semua ini fakta. Fakta yang telah bergulir selama ratusan tahun seiring dimulainya Industri Hasil Tembakau di Nusantara. Sayangnya fakta ini belum terlalu banyak didengar di dunia luar, bahkan oleh para perokok sendiri. Yang terjadi, jika kaitannya rokok dan kemiskinan, sumber informasi dan opini yang dibangun selalu mengacu kepada data-data kering yang dua kali dalam setahun dikeluarkan oleh BPS. Atau memang kita lebih senang mendengar narasi-narasi kemiskinan dan penderitaan di negeri ini, dibanding narasi-narasi perjuangan melepaskan diri dari jebakan kemiskinan seperti yang dilakukan oleh Umiyatul dan banyak manusia-manusia sederhana lainnya di negeri ini?
<\/p>\n","post_title":"Membebaskan Diri dari Jurang Kemiskinan Lewat Sektor Pertembakauan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"membebaskan-diri-dari-jurang-kemiskinan-lewat-sektor-pertembakauan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-08 11:34:44","post_modified_gmt":"2019-08-08 04:34:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5943","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5933,"post_author":"919","post_date":"2019-08-05 13:39:32","post_date_gmt":"2019-08-05 06:39:32","post_content":"\n

Musik adalah bagian dari kehidupan. Setiap alunannya menjadi warna yang saling menari mengikuti jejak langkah kehidupan. Sejak kecil irama musik mulai diperkenalkan orang tua hingga dewasa kita mulai mengenal musik dengan pemikiran sendiri. Musik menjadi teman setia manusa dalam berproses, baik jika akhirnya gagal atau mendulang kesukasesan.
<\/p>\n\n\n\n

Maka benar kata Bob Marley yang menyebut bahwa satu hal yang baik tentang musik adalah ketika itu menyentuh anda tidak akan ada rasa sakit (secara harfiah). Musik menjadi legitimasi perasaan yang tertaut dengan momen, menjadi irama pendamping saat satu peristiwa terjadi. 
<\/p>\n\n\n\n

Era digital seperti sekarang ini kita diperkenalkan dengan berbagai platform pemutar musik secara online dan yang paling banyak digunakan saat ini adalah Spotify. Anda bisa mendengarkan musik secara berbayar dengan profit kualitas suara yang jernih dan tentu membuat playlist idamanmu! playlist ini yang nantinya bisa anda bagikan di sosial media atau langsung ke whatsapp temanmu, hingga pacarmu.
<\/p>\n\n\n\n

Tentu kami juga punya pilihan lagu yang layak anda perdengarkan. Minggu ini kami merangkum lima lagu yang cocok anda dengarkan untuk menemani beraktivitas. Berikut lima lagu tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Selamat Pagi - Ran
<\/h2>\n\n\n\n

Nyaris tak ada yang memungkiri kalau Senin Pagi adalah sesuatu yang menjemukan. Kalau sudah begini dibutuhkan lagu yang tepat untuk mengawali aktifitas anda. Kami rekomendasikan lagu ini yang terdengar catchy agar menjadi mood booster bagi kalian yang masih terikat oleh hawa-hawa libur akhir pekan.
<\/p>\n\n\n\n

Wong Edan Kuwi Bebas - Shodiq Monata
<\/h2>\n\n\n\n

Yoooo! lagu-lagu dangdut memang sangat dibutuhkan ketika irama aktivitas anda mulai meningkat. Lagu ini memiliki beat yang cukup kencang diiringi dengan irama koplo yang siap membuat anda untuk bergoyang. Persetan dengan segala kemacetan hingga marahan dari atasan, Wong Edan Kuwi Bebas!
<\/p>\n\n\n\n

Sulung - Kunto Aji
<\/h2>\n\n\n\n

Kadang apa yang kita harapkan tak sesuai hasil yang didapatkan. Ekspektasi berlebihan membuatmu menjadi lupa pada jati diri, jika gagal maka berpotensi untuk tak percaya diri dan jika sukses bukan tak mungkin akan semakin menyombongkan diri. Karena kata Kunto Aji yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.
<\/p>\n\n\n\n

This Girl - Kungs
<\/h2>\n\n\n\n

Kalau Jumat malam sudah tiba maka waktunya untuk bersenang-senang! segera hubungi sahabat atau kekasih anda. Kongkow di kedai kopi atau berajojing ria juga pun tak masalah. Adakalanya anda butuh melepaskan penat, goyang badanmu dan nikmati dentuman musiknya.
<\/p>\n\n\n\n

Rotterdam (Or Anywhere) - The Beautiful South
<\/h2>\n\n\n\n

Sabtu dan Minggu waktunya jalan-jalan! kalau punya uang dan waktu ada baiknya berkunjung ke luar kota, namun jika budget terbatas maka kendarai motormu atau gunakan kendaraan umum lalu main ke rumah temanmu bisa jadi solusi. Tak peduli apa pun tempat yang anda kunjungi asal itu membahagiakan, benar kan?<\/p>\n","post_title":"Playlist Spotify Mantap Minggu Ini untuk Kalian Para Perokok Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"playlist-spotify-mantap-minggu-ini-untuk-kalian-para-perokok-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-05 13:39:39","post_modified_gmt":"2019-08-05 06:39:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5933","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};